Selasa, 11 Desember 2012

Perkembangan Sastra Indonesia Periode 1942 zaman jepang dan periode 1945

Periode 1942 Zaman Jepang

Zaman jepang adalah suatu zaman dimana bangsa indonesia selama 3,5 tahun dijajah. Selama dipimpin oleh pemerintah jepang, warga indonesia diberikan janji-janji muluk yang menyenangkan. Tahun 1943 jepang mengumpulkan para sastrawan indonesia dan diberi nama “ Kuimin Bunka Shidaseko” (pusat kebudayaan).
  Karya sastra pada zaman jepang diwarisi angkatan pujangga baru yang romantis dan idealis tetapi karya tersebut bersifat “realitas dan kritis”. Perkembangan sastra pada zaman itu dapat disebut sastra peralihan dari alam romantis dan alam idealis menjadi alam realitas dan kritis.
  Pada masa penjajahan jepang, banyak jumlah orang yang menulis sajak dan cerpen, demikian juga sandiwara. Sedangkan roman kurang ditulis. Mungkin karena keadaan sosial dan keadaan perang menuntut supaya orang bekerja serba cepat dan singkat. Pada masa itu ada 2 buah roman sajak yang diterbitkan balai pustaka yaitu Cinta Tanah Air karangan Nur St Iskandar dan Palawija oleh Karim Halim.
Karya sastra pada masa ini dapat dibedakan atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah karya sastra dan pengarangnya yang resmi berada di bawah naungan Pusat Kebudayaan Jepang. Mereka menulis sesuai dengan batas-batas yang ditentukan oleh Pusat Kebudayaan Jepang. kelompok kedua adalah kelompok yang tidak mau berkompromi dengan Pusat Kebudayaan Jepang.
 
Corak isi karya sastra zaman jepang, yaitu :
1.mencerminkan kekaguman, pujian dan simpati terhadap kegagah beranian tentara jepang melawan musuh, dan diharapkan semangat itu menjadi semangat bangsa Indonesia
2.Keragu - raguan dan kebingungan menghadapi keadaan tak menentu karena kesewenangan jepang.
3.Rasa benci, dendam dan berontak terhadap keadaan yang mencekam oleh tindakan pendudukan jepang.
4.Sikap tawakal kepada Tuhan karena terpaksa menahan penderitaan.
5.Sikap orang berkepala dua yang mengeruk keuntungan dan memanfaatkan situasi.
6.Pujian terhadap pejuang muda Indonesia yang mulai bangkit
7.Sikap tegas pemuda indonesia yang bersemangat berjuang untuk mendapatkan kemenangan.
8.Rasa kebangsaan yang kuat dan bersama - sama berjuang.
9.Lukisan sederhana dan mengena yang mengungkapkan kehidupan masyarakat yang terpoles oleh pendudukan jepang. 
10.Simbolik, yaitu lambang atau lukisan mengenai sikap, tingkah laku atau kehidupan dengan menceritakan keadaan hewan atau tumbuhan.
 Periode 1945 
Periode Angkatan 45 dimulai tahun 1942, tidak lama sesudah masuknya Jepang ke Indonesia. Periode ini merupakan pengalaman dan saat yang penting dalam sejarah bangsa dan juga sastra Indonesia. Pada masa ini, Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan diganti dengan bahasa Melayu. Hal ini memberi dampak pada intesifikasi pada penggunaan bahasa Melayu (Indonesia) dan tentu saja, mengintensifkan perkembangan kesusastraan Indonesia.
  Pada mulanya angkatan ini disebut Angkatan Sesudah Perang, ada yang menamakannya Angkatan chairil Anwar, Angkatan Kemerdekaan dan lain-lain. Pada tahun 1948 Rosihan Anwar menyebut angkatan ini dengan nama Angkatan 45.
  Munculnya Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan sesuatu yang baru. Bahasa yang dipergunakannya ialah bahasa Indonesia yang hidup, berjiwa. Bukan bahasa buku, melainkan bahasa percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra.
  Chairil Anwar segera mendapat pengikut, penafsir, pembela dan penyokong. Tetapi sementara itu meskipun namanya sudah diperoleh, sendi-sendi dan landasan-landasan ideal angkatan ini belum lagi dirumuskan.  Baru pada tahun i950 “surat kepercayaan gelanggang” di buat dan diumumkan. Surat kepercayaan itu ialah semacam pernyataan sikap yang menjadi dasar pegangan perkumpulan yang bernama ‘gelanggang seniman merdeka’ 
 
Karakteristik Karya Sastra Angkatan ’45 :
a. Revolusioner dalam bentuk dan isi. Membuang tradisi lama dan menciptakan bentuk baru sesuai dengan getaran sukmanya yang merdeka.
b. Mengutamakan isi dalam pencapaian tujuan yang nyata. Karena itu bahasanya pendek, terpilih, padat berbobot. Dalam proses mencari dan menemukan hakikat hidup. Seni adalah sebagai sarana untuk menopang manusia dan dunia yang sedalam-dalamnya.
c. Ekspresionis, mengutamakan ekspresi yang jernih.
d. Individualis, lebih mengutamakan cara-cara pribadi.
e. Humanisme universal, bersifat kemanusiaan umum. Indonesia dibawa dalam perjuangan keadilan dunia.
f. Tidak terikat oleh konvesi masyarakat, yang penting adalah melakukan segala percobaan dengan kehidupan dalam mencapai nilai kemanusiaan dan perdamaian dunia.
g. Tema yang dibicarakan: humanisme, sahala (martabat manusia), penderitaan rakyat, moral, keganasan perang dengan keroncongnya perut lapar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar