Zaman jepang adalah suatu zaman dimana bangsa indonesia
selama 3,5 tahun dijajah.
Selama dipimpin oleh pemerintah
jepang, warga indonesia diberikan janji-janji muluk yang menyenangkan. Tahun
1943 jepang mengumpulkan para sastrawan indonesia dan diberi nama “ Kuimin Bunka
Shidaseko” (pusat kebudayaan).
Karya
sastra pada zaman jepang diwarisi angkatan pujangga baru yang romantis dan
idealis tetapi karya tersebut bersifat “realitas dan kritis”. Perkembangan
sastra pada zaman itu dapat disebut sastra peralihan dari alam romantis dan
alam idealis menjadi alam realitas dan kritis.
Pada masa
penjajahan jepang, banyak jumlah orang yang menulis sajak dan cerpen, demikian
juga sandiwara. Sedangkan roman kurang ditulis. Mungkin karena keadaan sosial dan
keadaan perang menuntut supaya orang bekerja serba cepat dan singkat. Pada masa
itu ada 2 buah roman sajak yang diterbitkan balai pustaka yaitu Cinta Tanah Air
karangan Nur St Iskandar dan Palawija
oleh Karim Halim.
Karya sastra pada masa ini dapat dibedakan atas
dua kelompok. Kelompok pertama adalah karya sastra dan pengarangnya yang resmi
berada di bawah naungan Pusat Kebudayaan Jepang. Mereka menulis sesuai dengan
batas-batas yang ditentukan oleh Pusat Kebudayaan Jepang. kelompok kedua adalah
kelompok yang tidak mau berkompromi dengan Pusat Kebudayaan Jepang.
Corak isi karya sastra zaman jepang, yaitu
:
1.mencerminkan
kekaguman, pujian dan simpati terhadap kegagah beranian tentara jepang
melawan musuh, dan diharapkan semangat itu menjadi semangat bangsa
Indonesia.
2.Keragu
- raguan dan kebingungan menghadapi keadaan tak menentu karena
kesewenangan jepang.
3.Rasa
benci, dendam dan berontak terhadap keadaan yang mencekam oleh
tindakan pendudukan jepang.
4.Sikap
tawakal kepada Tuhan karena terpaksa menahan penderitaan.
5.Sikap
orang berkepala dua yang mengeruk keuntungan dan memanfaatkan situasi.
6.Pujian
terhadap pejuang muda Indonesia yang mulai bangkit
7.Sikap
tegas pemuda indonesia yang bersemangat berjuang untuk mendapatkan
kemenangan.
8.Rasa
kebangsaan yang kuat dan bersama - sama berjuang.
9.Lukisan
sederhana dan mengena yang mengungkapkan kehidupan masyarakat yang
terpoles oleh pendudukan jepang.
10.Simbolik,
yaitu lambang atau lukisan mengenai sikap, tingkah laku atau kehidupan
dengan menceritakan keadaan hewan atau tumbuhan.
Periode 1945
Periode Angkatan 45 dimulai tahun 1942, tidak
lama sesudah masuknya Jepang ke Indonesia. Periode ini merupakan pengalaman dan
saat yang penting dalam sejarah bangsa dan juga sastra Indonesia. Pada masa
ini, Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan diganti dengan bahasa
Melayu. Hal ini memberi dampak pada intesifikasi pada penggunaan bahasa Melayu
(Indonesia) dan
tentu saja,
mengintensifkan perkembangan kesusastraan Indonesia.
Pada
mulanya angkatan ini disebut Angkatan Sesudah Perang, ada yang menamakannya
Angkatan chairil
Anwar,
Angkatan Kemerdekaan dan lain-lain. Pada tahun 1948 Rosihan Anwar menyebut
angkatan ini dengan nama Angkatan 45.
Munculnya
Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan sesuatu yang baru. Bahasa yang dipergunakannya ialah bahasa Indonesia yang hidup,
berjiwa. Bukan bahasa buku, melainkan bahasa percakapan sehari-hari yang
dibuatnya bernilai sastra.
Chairil Anwar segera mendapat pengikut, penafsir, pembela
dan penyokong. Tetapi sementara itu meskipun namanya sudah diperoleh,
sendi-sendi dan landasan-landasan ideal angkatan ini belum lagi
dirumuskan. Baru pada tahun i950 “surat
kepercayaan gelanggang” di buat dan diumumkan. Surat kepercayaan itu ialah
semacam pernyataan sikap yang menjadi dasar pegangan perkumpulan yang bernama
‘gelanggang seniman merdeka’
Karakteristik Karya Sastra Angkatan ’45 :
a. Revolusioner dalam bentuk dan isi.
Membuang tradisi lama dan menciptakan bentuk baru sesuai dengan getaran
sukmanya yang merdeka.
b. Mengutamakan isi dalam pencapaian
tujuan yang nyata. Karena itu bahasanya pendek, terpilih, padat berbobot. Dalam
proses mencari dan menemukan hakikat hidup. Seni adalah sebagai sarana untuk
menopang manusia dan dunia yang sedalam-dalamnya.
c. Ekspresionis, mengutamakan ekspresi
yang jernih.
d. Individualis, lebih mengutamakan
cara-cara pribadi.
e. Humanisme universal, bersifat
kemanusiaan umum. Indonesia dibawa dalam perjuangan keadilan dunia.
f. Tidak terikat oleh konvesi masyarakat,
yang penting adalah melakukan segala percobaan dengan kehidupan dalam mencapai
nilai kemanusiaan dan perdamaian dunia.
g. Tema yang dibicarakan: humanisme,
sahala (martabat manusia), penderitaan rakyat, moral, keganasan perang dengan
keroncongnya perut lapar.